"Buku harus dijadikan kapak untuk memecah lautan beku dalam diri kita" #Franz Kafka

Huru-hara Covid 19

Ilustrasi

Diawal, tulisan viral ini menyinggung soal Masyarakat Kaya dan Miskin atau padanannya Kelas Menengah dan Kelas Bawah. Tapi saya lebih suka menyebut Masyakat Kaya dan Masyarakat Miskin seperti sudah sewajarnya budaya yang terjadi di masyarakat kita sudah seperti itu.
Dalam keyakinan Masyarakat Hindu mereka mengenal batas dan toleransi pribadi yang berkelas. Ada kelas atau Kasta paling tinggi Brahmana adalah orang yang mengabdikan diri pada kerja-kerja spritual seperti Rohaniawan, pendeta atau seorang Imam. Kelas berikutnya ada Kesatria, adalah orang yang memimpin lembaga atau kepala pemerintahan. Kelas ketiga ada kelas Waisya, adalah kelompok orang yang memiliki pekerjaan dan harta bendanya sendiri seperti nelayan, petani, pedagang. Dan kelas keempat adalah kasta Sudra, orang yang melayani ketiga kelas diatas.
Jika berbicara soal kelas dalam masyarakat hindu kita sebagai mayoritas Umat islam tidak mengenal akan adanya kasta tapi anehnya dalam level kelakuan dan keakuan masyarakat islam malah tidak sadar sedang mementaskan perlakukan dan perakuan tidak lebih sebagai masyarakat yang berkasta malah lebih hebat lagi mempertontonkan kelakuan kelas dalam ranah publik.
Tulisan Abang Saprillah Syahrir Al-Bayqunie tentang Covid 19 dan Relasi Kelas menegaskan bahwa kelas menengah ini mempunyai masalah yang kompleks, darinya masalah ini menjadi masalah komunitas berkembang menjadi masalah kelompok luar sampai benrkembang kepada kelompok negara sampai negara luar. Tapi sekali lagi saya lebih suka menyebutnya masyarakat kaya. Masyarakat kaya ini punya penyakit yang menjengkelkan, omongan mereka dianggap pintar dan didengar. Bukan karena yang mereka katakan itu adalah sebuah kebenaran melainkan karena posisi identitasnya saja sebagai orang kaya sehingga mereka dianggap kebenaran. Teringat kata "Rene Descartes" aku kaya maka aku ada. Aku kaya maka aku benar.
Sikap orang berada ini yang menjengkelkan ditengah wabah Covid 19 ini, dan wajah mereka berupa rupa. Ada yang berwajah provokator, ada yang berwajah teriak lock down tapi sejatinya lick down, ada yang berwajah fundamentalis, cari panggung atau pansos (panjat sosial) level buzzer sampai penimbun masker seperti ngototnya para pembahas UU Omnllibus Law itu.
Tulisan yang viral ini mmg viral dikalangan kelas menengah atau masyarakat kaya, sampai berseliweran di grup2 Whatsapp saya, sampai alamat tulisan web ini diunggah cukup "mengganggu" fikiran saya, siapa punya gerangan Website dari tulisan viral ini, apa punya masyarakat kaya? Cukup mengganggu lantaran baru membaca sanggahan produktif dari saudara Muhamad Ridha soal borok kapitalisme. Ternyata berasal dari website plat merah yang menurutku cerdas, garang dan rekomendid dijadikan rujukan selama sosial distancing ini. Ya cukup "mengganggu" dan membuat saya ingin berkata kata mewakili kelompok sudra. Terima kasih Bang Kyai Saleh. Mohon maaf. 
Share:

Actant; Aktor non manusia ; Aktor Pengendali


Ilustrasi

Tulisan ini juga "cukup menggangu" lewat di WA Grup (https://langgar.co/revolusi-covid-19/). Berat tapi bisa dicerna dengan baik, analisisnya yang tidak biasa membuatnya viral, ya tetap menggunakan bahasa kelas dan marxian sebagaimana telah banyak yang menyitir opa satu ini, namun tulisan ini menarik lantaran tidak menggunakan "name dropping" yang berlebihan walau sebenarnya dia dituduh seperti itu, dengan menggunakan atau menyitir nama tokoh dalam analisisnya agar penulis terlihat mengesankan. Baginya menyitir tokoh adalah sebuah kritik substansi dan kebutuhan. Tapi terlepas oleh itu semua saya secara pribadi menganggap tulisan ini berkelas.

Entah kenapa, akhir akhir ini saya rajin mengumpulkan tulisan-tulisan dengan gaya yang sederhana namun mengganggu lini masa dengan viralnya sebuah tulisan tanpa banyak menyitir nama tokoh, penulis terkenal lainnya agar si penulis terlihat keren dimata pembaca. Taktik dan strategi menulis seperti itu mmg perlu sampai pada makom spritual tertentu kali yah. Hehehehe

Tulisan ini mendapat "banyak perhatian" untuk tidak mengatakannya sebagai kritik lantaran menganggap bahwa ada kekuatan lain selaim manusia yang bisa meluluhlantakkan sebuah negara ataupun peradaban, ya dia menyebut itu sebagai Actant sebagai aktor non manusia. Yang bisa membuat sebuah negara dengan secepat kilat merumuskan ulang kebijakannya mulai dari kebijakan ekonomi sampai pada pemenuhan kebutuhan dimasa masa yang darurat seperti yang terjadi di negara maju sampai di negara berkembang seperti Indonesia.
Saya tertarik pada kata Actant, aktor non manusia ini. Memang sempat tidak terpikir apa hubungannya virus dengan sebuah revolusi? Bukankah revolusi kita kenal ya seperti level revolusi pada umumnya kajian kajian marxian? Ada kelas borjuis ada proletar. Namun ternyata yang membuat banyak perhatian adalah kata Actant, sebagai aktor non manusia yang dianggap mampu merevolusi sebuah negara.

Bruno Latour yang penulis gunakan hingga menyebut kata Actant, seorang ilmuan Sosiolog Prancis dengan memperkenalkan teori Jaringan aktor yang dikenal dengan ANT (Actor Network Theory). Teori jaringan inilah yang kemudian penulis anggap Covid 19 sebuah aktor non manusia yang kuat lantaran berada dalam jaringan Actant ini juga bisa disebut sebagai aktor pengendali tatkala berada dalam jejaring yang mempunyai aktifitas, peranan sampai perhatian. Covid 19 sebagai aktor non manusia dan sebagai aktor pengendali menjadikan dirinya sebagai pusat aktifitas, pusat peranan dan pusat perhatian seluruh dunia, sebuah perhatian yang telah mampu membuat realitas, ya sebuah realitas dan hadir sebagai realitas baru, walau sebenarnya wabah virus seperti ini telah ada sebelumnya.

Arah perhatian dunia melihat krisis ini sepeeti bersamaan ingin melihat dunia pasca Covid 19. Ada yang meramalkan kapitalisme akan tumbang lantaran limit pertumbuhan ekonomi dunia terhambat. Ada juga yang meramalkan bahwa sekarang kerja kerja sosialisme terlah berjalan dimana negara seperti China dan Kuba sedang mempraktekkan bantuan kemanusian dengan mengirimkan tenaga ahli medis mereka untuk menolong para negara maju yang takluk akan covid19 seperti yang dijelaskan oleh Harari tentang kebangkitan Sosialisme. Ada juga yang meramalkan bahwa kehidupan sainstis akan berkembang dalam masyarakat yang tterdampak covid19 akan mulai memperhatikan Pola hidup bersih dan sehat dengan baik, sehingga praktek praktek teori konspirasi para politikus dan para kelompok fundamentalisme agama tidak serampangan lagi berbicara konspirasi sebagai kebiasaan masturbasi intelektual.

Untuk selanjutnya, kita tetap berharap bahwa wabah ini segera menemukan jalan pulang. Amin.
Share:

Antara Teologi Splinter Prof Azyumardi Azra dan Teomorfik Manusia Prof Wahyuddin Halim.

ilustrasi

Tulisan kali ini masih menyorot soal Covid 19. Pagi ini saat menyorot data dunia saat mengakses https://www.worldometers.info/coronavirus/ disitu dijelaskan dengan sangat mendetail tentang Grafik kasus, grafik kematian, grafik inkubasi, total kesembuhan, sampai dengan kasus baru. Masing masing negara terdampak paling berat seperti negara Prancis yang hari ini telah bertambah +1.355 kematian, ada Spanyol +961 kematian, Amerika +784, dan Italy +760 kematian. Merupakan deretan negara maju dengan kematian yang tinggi dalam grafik worldometers. Dan tentu grafik perkembangan terbaru ini menjadi percakapan heboh pagi ini di lini masa. ada yang mengaitkan bahwa pandangan seseorang dipenuhi dengan pandangan kecemasan sehingga melihat angka-angka yang meninggal dalam grafik itu hanya sebagai sederetan angka statistik bukan pada manusianya.

Ada yang beranggapan agamis tetap pada pendirian dan cenderung "BAHAGIA" melihat kelompok negara maju seperti Amerika, Prancis, Spanyol yang menempati kasus paling banyak di dunia mungkin karena sejarah kolonialisme masa silam yang membuatnya seolah merasa dendam terbalaskan dan menganggap bahwa "Tuhan" dalam fikirannya telah memberikan azab kepada mereka. Anggapan seperti ini subur, terlihat dan berseliweran di lini masa kita masing masing. ingin menyanggah namun bukan saatnya untuk berdebat, hanya bisa sedikit menahan diri agar imun dan konsentrasi tetap terjaga dengan baik. Kemarin saya mempelajari 2 tulisan bersambung Prof Azyumardi Azra soal Splinter Agama, beliau melihat ini sebagai fenomena praktik Splineter di kalangan umat beragama baik di kalangan Nasrani, Hindu, Budha, Muslim dan kelompok lain.


Fenomena seperti ini seperti sama, kompak dan betul terjadi tanpa memandang kelompok, identitas, status sosial. Fenomena Teologi Splinter seperti ini "lumayan" menjengkelkan lantaran seseorang terlalu percaya diri akan keimanan, akhlak yang akan menghalau segala bentuk bencana dan wabah dibawah pemimpin ataupun Imam mereka. Himbauan negara dihiraukan apalagi himbauan Kesehatan Nasional juga ditampik. Walhasil, mereka mereka tetap menyelenggarakan ritual keaagamaan dengan jemaah yang besar kapasitasnya yang hadir. itulah yang membuat Amerika kewalahan mencegah perkembangan Covid 19, dominasi Teologi Splinter yang beranggapan "Tuhan menjanjikan perlindungan bagi diri kita dari semua hal ini (bahaya virus)", kelompok politisi yang mencari panggung juga beramai-ramai mendukung narasi tersebut bahwa tidak ada alasan yang kuat untuk menutup semua tempat tempat ibadah, ritual keagamaan harus tetap dilanjut, dominasi teologi splinter seperti ini ada disemua agama dan terjadi diwaktu yang bersamaan.

Narasi seperti inilah yang membuat kesesatan ditengah pandemik global yang menyepelekan komitmen global dan komitmen keberagamaan. Merasakan fenomena seperti ini, saya teringat pada konsep Negara Moral Al Ghazali, walau Al Farabi juga mempunyai konsep negara Ideal yang berbicara soal wahyu dan intelektual yang kemudian menghubungkan pengelolaan negara, kekuasaan maupun etika politik. Disini sedikit menyinggung Negara Moral Al Ghazal yang memperkokoh komitmen moral kerakyatan dengan keimanan untuk mendukung pemimpin. Ditengah pandemik global seperti ini malah terlihat suatu "peluang" menarik untuk menjatuhkan rezim bahkan menggugat ke pengadilan yang dilakukan oleh para politisi, para buzzer bayaran yang hanya sekedar mengolok olok segala kebijakan yang dihimbau oleh Pemerintah, hanya di Indonesia Covid19 ini berasa Pilpres 2019 lalu masih ada Rasa Cebong dan Rasa Kampret!!! Dan tentunya, mempercayai para kelompok seperti mereka ditengah huru hara Covid19 sepertinya sia sia.

Fenomena Teologi Splinter ini dipupuk oleh kelompok kelompok yang senang bertikai, mereka saling beradu argumen, yang satu mengolok satunya menjelaskan. yang satu melempar Tesis satunya Mengantitesis. Fenomena ini yang kemudian disebut pagi hari ini oleh Prof Wahyuddin Halim sebagai Teomorfik manusia; bahwa manusia sebagaimana adanya dan sesuai maksud penciptaannya oleh Tuhan; bahwa ia tidak dapat menjadi sesuatu yang terbelah atau tak lengkap, dan ditutup oleh pernyataan Frithjof Schuon, Tugas mendasar manusia adalah menjadi manusia apa adanya. Kaliman ini yang membuat saya kemudian juga teringat akan kesalehan individual seorang dalam beragama; sampai sejauh mana mereka selama ini hadir dalam kegiatan2 ritual keagamaan sebelum Covid19 sehingga mampu menjadi corong Splinter dan Corong Teomorfik.

Sejauh mana pencapaian keyakinan spritual mereka sehingga mampu membuat gaduh dan merasa memiliki dukungan pada hukum syariat; dan sampai sejauh mana pemahaman spritual mereka sehingga merasa mendapatkan ketaatan yang menyeluruh dan mendapat legitimasi publik, selain kegaduhan dan keributan tiap harinya. Kita akui dominasi Spliter dan dominasi Watak Teomorfik ini pasti akan bertemu, walau kita tahu Dunia saat ini seolah kembali bernafas dan perubahan iklim dalam skala yang besar. Penurunan aktivitas manusia, pabrik industri dan transportasi massal dihentikan yang menyebabkan asap polusi, tidak ada pembalakan liar, penebangan pohon, laut menjadi tenang. Jika melihat animasi visual digital berdasar proyeksi satelit milik Amerika yang dirilis laporan dari Science Alert sejak 1 Januari sampai 11 Maret 2020 kemarin yang diberi nama "Breathing Earth" memperlihatkan tingkat kehijauan di bumi dan penurunan besar dari polusi udara secara khusus nitrogen dioksida industri dan transportasi, hal ini terjadi seiring dengan pengurangan aktivitas manusia di rumah.

#tetapkidirumah
#salammakki
Share:

About Me

My photo
Diri Umar Bakri. Pengoleksi Buku lapuk. Peminum Kopi Kapal Api. Berusaha melancongi imajiner tiap waktu.

Pengunjung Blog

Followers

"Buku harus dijadikan kapak untuk memecah lautan beku dalam diri kita" #Franz Kafka